Bagaimana Baginda SAW menghadapi hidangan sehari2.
di petik dari kalamku.wordpress.com
Dalam setiap aktiviti dan pola hidupnya, Rasulullah SAW memang sudah disiapkan untuk menjadi contoh teladan bagi semua manusia termasuk dalam hal pola pemakanan.
Memang sih, hanya urusan makanan.
Dengan pola makanan tersebut, Rasulullah SAW memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan sanggup mengalahkan para pegulat, tampaknya kita harus mikir lagi untuk mengatakan hanya.
Ini bukan perkara remeh. Sebab salah satu faktor penting penunjang fisik prima Rasulullah SAW adalah kecerdasan beliau dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsinya.
Selama ini kita mengenal dua bentuk pengobatan. Pengobatan sebelum terjangkit penyakit / pencegahan ( At thib Al wiqo`i), dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al `ilaji).
Nah, dengan mencontohi pola pemakanan Rasulullah SAW, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan. (attadawi bil ghidza`). Ini tentu jauh lebih baik daripada kita berhubungan dengan ubat-ubatan kimia.
Hal pertama yang menjadi menu seharian Rasulullah SAW adalah udara segar di subuh hari.
Sudah umum di ketahui bahwa udara pagi kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain. Ini ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap ‘vitality’ seseorang dalam aktivitinya selama sehari penuh.
Maka tidak usah hairan ketika kita tidak bangun di subuh hari, kita menjadi terasa begitu malas untuk beraktiviti.
Selanjutnya Rasulullah SAW menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.
Lepas dari subuh, Rasulullah SAW membuka menu sarapannya dengan segelas air yang dicampur dengan sesudu madu asli. Khasiatnya luar biasa.
Dalam Al qur`an, kata syifa / kesembuhan, yang dihasilkan oleh madu, diungkapkan dengan isim nakiroh, yang berarti umum, menyeluruh.
Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu befungsi membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Dalam istilah orang arab, madu dikenal dengan al hafidz al amin, karena bisa menyembuhkan luka bakar.
Masuk waktu dluha, Rasulullah SAW selalu makan tujuh butir kurma ajwa`/matang.
Sabda Baginda SAW, barang siapa yang makan tujuh butir korma, maka akan terlindungi dari racun.
Dan ini terbukti ketika seorang wanita yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah SAW dalam sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa di neutralizes kan oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma.
Bisyir ibnu al Barra`, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah SAW selamat. Apa rahasianya? Tujuh butir kurma!
Dalam sebuah penelitian di Mesir, penyakit cancer ternyata tidak menyebar ke daerah-daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi kurma. Belakangan terbukti bahwa kurma memiliki zat-zat yang bisa mematikan sel-sel kanker.
Maka tidak perlu heran kalau Allah menyuruh Maryam RA, untuk makan kurma disaat kehamilannya. Sebab memang itu bagus untuk kesehatan janin.
Dahulu, Rasulullah SAW selalu berbuka puasa dengan segelas susu dan korma, kemudian sholat maghrib. Kedua jenis makanan itu kaya dengan glukosa, sehingga langsung menggantikan zat-zat gula yang kering setelah seharian berpuasa.
Glukosa itu sudah cukup mengenyangkan, sehingga setelah sholat maghrib, tidak akan berlebihan apabila bermaksud untuk makan lagi.
Menjelang sore hari, menu Rasulullah SAW selanjutnya ialah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja bukan cuma cuka dan minyak zaitunnya saja, tetapi di konsumsi dengan makanan pokok, seperti roti misalnya.
Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang dan kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan memperlancar pencernaan. Ia juga berfungsi untuk mencegah cancer dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.
Ada kisah menarik sehubungan dengan buah tin dan zaitun, yang Allah bersumpah dengan keduanya.
Dalam alquran, kata at tin hanya ada satu kali, sedangkan kata az zaytun di ulang sampai tujuh kali.
Seorang ahli kemudian melakukan penelitian, yang kesimpulannya, jika zat-zat yang terkandung dalam tin dan zaitun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1:7, maka akan menghasilkan ahsani taqwim, atau tubuh yang sempurna, sebagaimana tercantum dalam surat at tin.
Subhanallah! Syaikh Ahmad Yasin adalah salah seorang yang rutin nya mengkonsumsi jenis makanan ini, sehingga wajarlah beliau tetap sehat, kuat dan begitu menggentarkan para yahudi, meskipun LUMPUH SEJAK KECIL. Kalau saja beliau tidak lumpuh, barangkali sudah habis para yahudi Israel itu.
Di malam hari, menu utama Rasulullah SAW adalah sayur-sayuran.
Beberapa riwayat mengatakan, Baginda SAW selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. Di mesir, kata Dr. Musthofa, keduanya mirip dengan sabbath dan ba`dunis yaitu secara umum sayur-sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu memperkuat daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit.
Jadi, ASALKAN NAMANYA SAYURAN, sepanjang itu halal, Insya Allah bergizi tinggi.
Disamping menu wajib di atas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah SAW tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya.
Diantaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Jadi ya kira-kira seperti bubur ayam begitulah.
Kemudian beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu manis, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula.
Kemudian beliau juga senang makan anggur dan hilbah.
Sekarang masuk pada tata cara mengkonsumsinya.
Ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Sebab setinggi apapun gizinya, kalau pola konsumsinya tidak teratur, akan buruk juga akibatnya. Yang paling penting adalah menghindari isrof, atau berlebihan.
Kata Rasulullah SAW, cukuplah bagi manusia itu beberapa suap makanan, kalaupun harus makan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya (al hadis).
Ketika seseorang terlalu banyak makanannya, maka lambungnya akan penuh dan pernafasannya tidak bagus, sehingga zat-zat yang terkandung dalam makanan tersebut menjadi tidak berfungsi dengan baik.
Imbasnya, kondisi fisik menjadi tidak prima, dan aktivitipun tidak akan maksimal. Dr. Musthofa menekankan bahwa assyab`u ,yang berarti kenyang itu bukan al imtila` , atau memenuhi. Tetapi KENYANG ADALAH TERCUKUPINYA TUBUH OLEH ZAT-ZAT YANG DIBUTUHKANNYA, SESUAI DENGAN PROPORSI DAN UKURANNYA.
Jadi ini penting; jangan kekenyangan!
Kemudian Rasulullah SAW juga melarang untuk idkhol at thoam alatthoam, alias makan lagi sesudah kenyang.
Suatu hari, di masa setelah wafatnya rasulullah, para sahabat mengunjungi Aisyah ra. Waktu itu daulah islamiyah sudah sedemikian luas dan makmur. Lalu, sambil menunggu Aisyah ra, para sahabat, yang sudah menjadi orang-orang kaya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam-macam.
Aisyah ra, yang mendengar hal itu tiba-tiba menangis. Apa yang membuatmu menangis, wahai bunda? tanya para sahabat. Aisyah ra lalu menjawab, dahulu Rasulullah SAW tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti.
Dan penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya berjenis-jenis makanan dalam perut telah melahirkan bermacam-macam penyakit.
Maka sebaiknya jangan gampang tergoda untuk makan lagi, kalau sudah yakin bahwa anda sudah kenyang.
Yang selanjutnya , Rasulullah SAW tidak makan dua jenis makanan panas atau dua jenis makanan yang dingin secara bersamaan. Beliau juga tidak makan ikan dan daging dalam satu waktu dan juga tidak langsung tidur setelah makan malam, karena tidak baik bagi jantung.
Baginda SAW juga meminimalkan dalam mengkonsumsi daging, sebab terlalu banyak daging akan berakibat buruk pada persendian dan ginjal.
Pesan Umar ra Jangan kau jadikan perutmu sebagai kuburan bagi hewan-hewan ternak!. Ayam, kambing, lembu, kerbau semuanya masuk.